Senin, 19 Oktober 2026

Dia Akad Kemarin

     Barangkali sebagian besar orang menganggap mimpi adalah sekadar bunga tidur tapi bagaimana jika itu adalah sebuah firasat?

    Beberapa minggu yang lalu aku bermimpi. Lagi-lagi mimpi bertemu dengan dia (red:mantan). Dalam mimpi ia sempatmengatakan sesuatu dan sialnya aku masih saja ingat kalimat yang ia katakan. “Menikahlah, ini sudah waktunya kau untuk menikah”, begitu tepatnya ia berkata. Pukul 02.00 dini hari akupun terbangun. Aku diam sejenak, memproses apa yang baru saja terjadi. Hanya mimpi, semuanya hanya mimpi dalam tidur malam ini.

    Hari-hari terlewati, semua berjalan sesuai adanya. Aku hadiri satu per satu acara gratisan  dengan antusias tentunya. Merampungkan membaca buku yang sudah berdebu dan sesekali mengelola toko online kecilku. Hingga tiba ketika aku pulang dari agenda journaling 18 Oktober 2026.

    Siang itu terlewati dengan sepiring makanan pokok anak kos, ayam geprek. Namun bukan hanya ayam goreng tepung itu saja yang hancur ternyata rumah kecil di dalam hatiku ikut luluh lantah. Sebenarnya tak ada keheranan, kaget, ayau semacamnya. Hal ini sudah lama aku prediksi namun tetap saja, air mata itu jatuh juga. Aku tidak tahu air mata apa ini tapi ada secuil sesak di dada.

    Beberapa pertanyaan terlontar di pikiranku, ia bergelanyutan seakan mempertanyakan apa yang sudah lama terjadi. Tidak hanya itu saja. Kotak memori di amigdala turut memutar semua yang ternyata masih ia simpan. Aku bingung harus bagaimana menyikapi emosi ini. Aku peluk saja diriku, menangis sepuasnya, dan menyadari semua sudah selesai. Aku dan dia sudah selesai dari 5 tahun yang lalu. Kami tidak akan pernah bersama. Memang tak ada jodoh antara kami. Pertemuan kemudian jalinan yang pernah ada sebatas mengajarkan pelajaran hidup berharga.  Tak semua yang bersama akan berakhir bersatu, begitu mungkin tepatnya.

    Kemarin ia sudah akad. Mereka sudah membuat janji suci dihadapan Tuhan dan beberapa manusia. Ikatan mereka sudah tercatat secara sah dimata negara. Lalu apalagi yang perlu aku tangisi?. Aku yakin, jangankan mengingatku terbersit secara tak sengaja saja sepertinya tidak ada. Aku sudah lebih dahulu terhapus dari ingatan dan hatinya. Aku hanyalah masa lalu yang sudah lama terhapus dari ingatan. 

    Giliranku akan tiba, jika masih diberi umur panjang. Aku akan bersatu dengan pasangan, sahabat hidup, kekasih jiwa terbaik, yang sudah dipilihkan oleh-Nya. Tidak lambat apalagi cepat. Semuanya berjalan sesuai waktunya. Terjadi seapa adanya. Mungkin sekarang aku belum layak berada di fase itu. Bekalku belum cukup berada di bahtera besar itu. 

    Sekarang akan aku jalani hidupku sebaik-baiknya. Rumah kecil itu memang diterpa badai kemarin, kini akan aku bangun lagi. Perlahan aku susun puing yang masih bisa dipakai. Memori lama itu kubiarkan menguap bersama el nino dan udara kering tahun ini. Aku akan rajin mengonsumsi magnesium, agar tak bertemu kau beserta orang-orang terdekatmu walau itu hanya di mimpi saja. Aku pinta pada-Nya dengan sangat, untuk tidak bertemu atau dipertemukan kembali dalam ketidak-sengajaan apapun. Asinglah se-asing asingnya. Tak perlu lagi ada sapaan atau senyum. Hiduplah di hidupmu begitu juga dengan aku.

    Mungkin ini adalah tulisanku terakhir yang menjadikanmu sebagai objeknya. Aku akan tetap menulis dan membuat buku. Mimpiku itu akan selalu hidup tapi tidak dengan bertemu denganmu. Sebelumnya selamat atas pernikahanmu. Seperti kalimat yang dahulu sering aku ucapkan, kau harus bahagia entah itu bersamaku atau tidak. Pergilah sejauh jauhnya. Bawa semua memoar itu. Aku tak akan menganggapmu ada, karena semua sudah selesai.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dia Akad Kemarin

       Barangkali sebagian besar orang menganggap mimpi adalah sekadar bunga tidur tapi bagaimana jika itu adalah sebuah firasat?      Beber...