Senin, 22 Februari 2021

Perempuan dan Impian

     Membahas tentang perempuan rasanya akan banyak sekali topik pembahasan dan rasanya tidak akan ada habisnya. Mulai dari cerita keseharian, keunikannya, bahkan perannya dalam kehidupan. Ketika seorang perempuan masih berstatus sebagai anak akan memiliki cerita yang berbeda ketika statusnya berubah menjadi istri ataupun ibu, dari situ saja akan muncul banyak cerita dengan beragam konfliknya. Mungkin tulisan kali ini tak akan cukup bila harus menceritakan ketiga status perempuan tersebut, maka aku akan menuliskan perempuan dari kacamata  mimpi, cita-cita, dan impiannya.

Gambar oleh  Jill Wellington dari Pixabay


    Sebagai manusia yang dikaruniai daya untuk berjuang dalam hidup, mimpi menjadi bagian tak terpisahkan dengan manusia. Baik laki-laki maupun perempuan, semua berhak memperjuangkan hidupnya atas nama mimpi, cita-cita, maupun impian. Dengan cita-citalah hidup terasa layak untuk diperjuangkan, pun tak ada batas jumlah mimpi untuk dimiliki. Namun dalam masyarakat terdapat batasan dalam mewujudkan cita-cita tersebut, dan batasan itu didasarkan pada gender. 

    Tak memungkiri sebagai bangsa timur kedudukan antara laki-laki dan perempuan seringkali mengalami diskriminasi. Paham patriarki yang mayoritas melekat pada bangsa Indonesia menjadikan adanya hierarki antara laki-laki dan perempuan dalam berbagai bidang masyarakat. Mulai dari lini keluarga, pekerjaan, pendidikan, hingga birokrasi, dapat dijumpai pengkotak-kotakan antara dua gender ini. Walau kini banyak penyetaraan hak-hak perempuan namun masih ada hal yang dianggap tabu yang berkaitan dengan perempuan, misalkan ketika seorang perempuan mengalami menstruasi di tempat umum lalu memerlukan pembalut, mereka akan menggunakan kode-kode kepada temannya untuk menyebut pembalut dengan istilah "roti jepang" atau istilah lainnya. Hal yang seharusnya menjadi wajar terkesan aneh bahkan tabu. Itu sedikit contoh kecilnya. Selain itu dalam hal berpakaian. Seorang anak perempuan selalu diwanti-wanti untuk mengenakan pakaian yang tertutup guna menghindari hal-hal buruk dari laki-laki yang mungkin saja terjadi akibat pakaian yang (dianggap) kurang sopan. Tapi sangat jarang atau bahkan tak ada orang tua yang mengingatkan anak laki-lakinya untuk menjaga pandangan dan sikapnya terhadap perempuan.

    Kembali pada perempuan dan impian. Seorang perempuan tak dapat dipisahkan dengan impiannya, namun beberapa dari mereka justru mematikan cita-cita mereka sendiri serta mengorbankan kebahagiaan mereka dengan dalih " inilah realita hidup ". Mindset yang selalu menjadi alasan mereka menghentikan perjuangan meraih mimpinya tersebut yaitu "seorang perempuan harus lebih rendah  dari lelaki, karena bila perempuan lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki maka laki-laki tersebut akan minder menjadi pasangan hidup kita". Atau mungkin "mencari nafkah itu kewajiban laki-laki jadi untuk apa perempuan bercita-cita tinggi nanti ujungnya juga di dapur". Dari kedua pernyataan diatas sangatlah sempit. Pandangan yang hanya dari satu sudut pandang tersebut kurang relevan bila kita mau mengupasnya lebih dalam lagi.

    Seorang wanita dengan kemampuan dan pengetahuan lebih tinggi dari laki-laki mampu menjadi seorang yang mandiri, dapat diandalkan, atau mungkin dapat memberikan kontribusi terbaiknya untuk lingkungan sekitar, dan itu bukanlah sebuah kesalahan. Tak ada kedudukan yang lebih tinggi ataupun rendah antara laki-laki dan perempuan, mereka dapat berada di panggung yang sama. Menjadi seorang perempuan dengan cita-cita pendidikan yang tinggi juga tak pernah ada ruginya. Walau pada akhirnya menjadi seorang ibu rumah tangga, ia akan menjadi seorang ibu yang tau bagaimana harus bersikap dan merawat keluarganya. Begitu pula menjadi seorang wanita yang bekerja. Entah memilih untuk menikah atau tidak mencukupi kebutuhan hidup dengan bekerja tak akan menjadi kesalahan. Menjadi seorang perempuan yang berdaulat adalah hak untuk semua perempuan yang dilahirkan ke dunia. Bila seorang laki-laki (merasa) tidak percaya diri lalu menyuruh seorang perempuan untuk menurunkan kemampuannya agar bisa bersanding bersama itulah salah yang sesungguhnya. Bukan kemampuan perempuan yang terlalu tinggi, namun laki-laki itulah yang tidak layak mendapatkan dan bersanding dengan perempuan hebat tersebut. 

    Memperjuangkan mimpi, mewujudkan cita-cita, dan meraih impian merupakan hak untuk seluruh orang baik itu laki-laki maupun perempuan. Menjadi seorang  pemimpin di bumi adalah fitrah manusia, tanpa memandang jenis kelamin. Selagi ia dapat memberi manfaat bagi setiap manusia dan lingkungannya mengapa harus dibatasi dengan template lama, mindset kuno, atau bahkan ekspektasi tak logis?. Zaman terus berganti dan tak semua tata cara lama masih cocok digunakan. Tak apa-apa seorang laki-laki mengerjakan pekerjaan domestik seperti menyapu, mencuci baju, dan memasak. Karena hal tersebut wajar dilakukan baik oleh laki-laki maupun perempuan. Antara bekerja dan membangun rumah tangga, jangan jadikan hal tersebut menjadi pilihan untuk perempuan bila dapat dikerjakan keduanya. Antara cita-cita dan cinta, keduanya bukanlah sebuah pilihan untuk perempuan. Cinta yang murni akan senantiasa membersamai cita-cita yang tulus. Karena keduanya tak akan mematikan satu sama lain. Begitu juga dengan impian yang tumbuh pada setiap diri perempuan. Antara paradigma lama dan cita-cita, tak seharusnya paradigma tersebut membunuh cita-cita mulia. Sebab semesta akan menerima cita cita mulia tersebut sekalipun melalui cara yang berbeda dari sebelumnya. Perubahan akan selalu terjadi, sebab yang tak berubah hanya perubahan itu sendiri.

Rabu, 03 Februari 2021

Anugerah=Pemberian

     Pernahkah kalian mendengar atau membaca kalimat "Kasih sayang orang tua tiada pernah berakhir" atau "Kasih ibu sepanjang masa" dan kalimat-kalimat lain yang menyinggung tentang orang tua ? hal apa yang pertama terlintas dalam pikiran kalian? . Ya, mayoritas orang akan berpikir tentang cinta. Semakin lama memahami maka kalian akan menemukan istilah "cinta sejati". Makna dari cinta sejati sendiri akan berbeda-beda setiap orang namun secara garis besar cinta sejati memiliki arti "cinta murni".


    Seperti judul dari artikel ini, anugerah atau lebih mudahnya pemberian. Apa itu pemberian?. Ya sesuatu yang secara bebas diserahkan dari pemilik kepada penerima, maka pemberian itu adalah sesuatu yang telah dipilihkan bukan hasil dari pilihan. Begitupun dengan kisah orang tua dengan anak. Dalam perjalanan hidup hierarki terdekat yang lekat dalam hidup manusia adalah posisi orang tua dan anak. Awal kali manusia hadir ke dunia maka akan merasakan unit kehidupan pertama yaitu keluarga. Keluarga yang diawali dari kehadiran ayah dan ibu, seorang laki-laki dan perempuan yang memutuskan untuk membangun rumah tangga hingga akhirnya memutuskan menghadirkan orang lain ke dunia lalu disebutlah anak.
    Anak. Bisakah kehadiran anak disebut anugerah?. Tanpa pertanyaan tersebut pun anak memanglah anugerah dari Yang Kuasa untuk orang tuanya. Kehadiran seorang anak dalam sebuah keluarga adalah anugerah, titipan, amanah, kepada orang tua dari Tuhan. Seorang anak yang hadir ke dunia tak pernah memilih dilahirkan pada keluarga seperti apa. Coba bayangkan bila seorang anak dapat memilih keluarganya, pasti anak-anak memilih dilahirkan pada keluarga yang berlebih. Lebih atas materi, kasih sayang, maupun, waktu. Sebab denga begitu hidup akan lebih mudah dilewati. Namun kenyataannya tak ada seorang pun anak yang bisa memilih hal tersebut. Tak ada seorang anak yang jauh sebelum lahir meminta pada Tuhan untuk hadir dalam keluarga seperti apa. Sama seperti anak, orang tua juga merasakan hal yang sama. Tak ada orang tua yang dapat memilih anak seperti apa yang akan hadir dalam tengah-tengah keluarganya. Mengapa?, ya sebab anak adalah anugerah untuk orang tua dan orang tua adalah anugerah untuk anak. Dua hal yang saling menghadiahi. Dua hal yang saling menjadi anugerah. Hal yang sama-sama tak bisa memilih.
    Berbicara tentang cinta sejati, sudah sepatutnya orang tua memberikan cinta seutuhnya pada anaknya begitu juga dengan anak. Lalu apa arti cinta sejati? menurut seorang aku cinta sejati bukanlah cinta antara anak dan orang tua, bukan. Cinta sejati adalah kasih yang hadir dari orang lain yang mau mempercayakan kisah hidupnya pada kita. Orang asing yang tak ada jalinan darah dengan kita namun dengan ikhlas menerima, menganggap, dan berbagi waktu dengan kita. Sebab ia memilih sendiri, bukan pemberian secara cuma-cuma namun juga memilih dan siap bertumbuh bersama. Berproses seiring waktu berjalan hingga akhirnya menggapai bahagia atas izin Yang Kuasa. Definisi cinta sejati. Seorang sahabat yang menganggap kita sebagai sahabat, hingga tumbuhlah cinta murni. Tak melulu bahagia namun juga siap melewati tangis serta kecewa atas proses kehidupan. Tak hanya sebagai teman namun lebih dari itu, sebagai sahabat yang senantiasa menemani dan ada dalam segala kondisi juga waktu. Entah kapan akan bertemu, semoga lekas bertemu cinta murni kalian pada rasa dan waktu yang tepat :) .

Senin, 01 Februari 2021

Garis Waktu

 " Cepet banget sih emangnya mau ngapain nanti habis lulus? "

"Kapan lulus?"

" Kamu ngapain aja sih, lihat tuh teman-temannya udah pada kerja"

" Kapan nikah keburu tua lho"

dan masih banyak pertanyaan lain yang seakan membuat kita sedang berlomba dengan lainnya. 

Apakah hidup selalu begitu?, Apakah semuanya harus mengikuti jalan orang lain? Apakah salah ketika seseorang memilih waktunya sendiri?



    Banyak hal dalam hidup yang seakan-akan telah memiliki template dan sebagai bagian dari masyarakat kita dituntut untuk mengikutinya. Bila berbeda sedikit saja sudah bisa dipastikan menjadi bahan pembicaraan orang terdekat. Tangan harus siap menutup kedua daun telinga agar hati tak melulu sedih ketika menanggapi "kata orang".
    Seiring berjalannya waktu diri semakin sadar bahwa setiap keputusan dan jalan yang diambil dalam hidup tak harus sama seperti milik orang lain. Dan aku juga mengerti arti sebuah garis waktu. Sebuah alur hidup yang berkaitan denga masa dan setiap berbeda dengan manusia lainnya.
Ada orang yang lulus kuliah di usia 24 tahun tapi langsung mendapatkan pekerjaan. Ada juga seseorang yang lulus kuliah di usia 21 tahun namun harus menunggu tiga tahun untuk mendapatkan pekerjaan. Selain itu kita bisa belajar dari tokoh terkenal yang pernah kita temui, misalnya Presiden USA yang baru saja dilantik "Joe Biden" beliau dilantik ketika berusia 78 tahun. Bayangkan diusia yang telah senja beliau mendapatkan amanah menjadi pemimpin negara adidaya Amerika Serikat. Berbeda lagi dengan Bupati terpilih Kabupaten Tuban Jawa Timur, Aditya Halindra Faridzky. Di usianya yang ke-28 terpilih untuk memimpin Kabupaten Tuban untuk lima tahun kedepan. Tidak, disini aku bukan menjadi tim sukses mereka tapi aku hanya ingin mereka yang masih beranggapan bahwa hidup adalah soal perlombaan dan hanya diukur dari angka-angka dapat membuka mata, telinga, dan mindset bahwa hidup ini tak bisa ditentukan dengan template-template lama. 
    Selama manusia hidup dan mau berpikir mereka layak menentukan jalan hidupnya. Mengenai waktu semua orang juga memiliki jalan waktunya masing-masing. Semua hal itu tak bisa dibandingkan sebab telah diatur bahkan sebelum manusia itu terlahir ke dunia. Bagi kalian yang saat ini belum lulus kuliah, ayo semangat jangan patah di tengah usahamu. Untuk teman-teman yang belum menikah, ayolah kawan usia kepala 2 belumlah tua bagimu perempuan yang belum ke pelaminan, masih banyak hal yang bisa dijelajahi. Semua pasti akan bertemu dengan "saat" yang tepat dan dalam waktu yang tepat juga. Tetap lanjutkan usaha, doa, dan tawakal mu. Tuhan selalu bersama hamba-Nya yang mau berusaha.



Namanya Dasya

     Dari sekian banyak pertemuan yang ada, ini adalah kali pertama saya bertemu makhluk Tuhan bukan manusia yang bisa membuat saya jatuh ha...