Postingan

Menampilkan postingan dengan label Kontemplasi

Bibit, Bebet, Bobot

Gambar
  S ore ini cuaca Nampak mendung. Gerimis kecil mulai turun. Meningkatkan melatonin dalam tubuh meski tak sebanyak ketika hujan deras yang bertandang. Dari luar terdengar perbincangan beberapa orang. Walaupun tak jelas siapa yang sedang menjadi topik pembicaraan. Sepertinya obrolan disana membawa beberapa percik emosi dari nada yang terdengar. Serupa kilat kecil yang nyaris menyambar pucuk pohon. “dek, pilih pasangan yang bener-bener. Kenali bibit, bebet, bobotnya. Jangan Cuma pelajari personalnya. Budaya keluarganya juga” “ha? Kenapa?” Rupanya potongan podcast yang terdengar beberapa jam yang lalu bertemakan rumah tangga. Panjang kali lebar dan kali tinggi. Semua yang dibicarakan, diceritakan ulang oleh ia si sulung padaku. Entah dengan bumbu tambahan atau rasa original. Namun aku mulai membaca kekhawatirannya disana. Ia ceritakan bagaimana perjalanannya dahulu sebelum memutuskan naik pelaminan. Tentang cara ia mempelajari kebiasaan keluarga calonnya dan segala nilai h...

Bagaimana Bila Nanti............

Gambar
    “Siapapun nanti yang menjadi pasangan hidupku, semoga keluarganya juga menerima dan menyayangiku sepenuh hati”   D alam kehidupan, manusia berkembang seiring berjalannya waktu. Bersamaan dengan itu lingkungan juga berubah dan orang-orang disekitar mulai menua. Setiap masa memiliki ciri khasnya masing-masing. Seperti masa kanak-kanak yang penuh dengan waktu bermain. Masa remaja yang mulai mengenal ketertarikan lawan jenis. Masa dewasa yang penuh dengan tuntutan kehidupan dan nanti yang akan mulai berjalan pelan dimasa senja. Beberapa peristiwa menandai masa tumbuh manusia. Salah satunya adalah momen pernikahan. Peristiwa membangun institusi baru dalam kehidupan. Melibatkan dua pribadi dari latar belakang pengasuhan berbeda. Bahkan momen ini disimbolkan lahirnya kehidupan baru bagi sebagian orang. Bersatunya dua insan untuk tak sekadar tinggal seatap tapi juga hidup bersama. Photo by Irina Iriser: https://www.pexels.com/photo/wedding-rings-916344/ Menjadi pere...

Menuju Dua Puluh Tujuh

Gambar
P ergantian tahun tinggal menghitung jam. Dalam kedipan mata 2024 tertanggal dari kalender. 2025 telah menyiapkan diri untuk mengisi posisi pendahulunya.  Ada yang datang, ada juga yang pergi.          Tahun ini tersemat 26 tahun sudah usiaku. Hitungan jam saja masa 26 itu mulai memudar. Tahun 2025 menyeretku pada kenyataan bahwa usiaku mulai serius. Tepatnya 27 tahun pada juli nanti. Sesungguhnya tak ada yang istimewa dengan angka 27. Sama seperti usia-usia 20-an lainnya tapi entah kenapa ada rasa yang tak bisa dijelaskan. Tak bisa diutarakan dengan gamblang.           Pada satu film berjudul "3 Hari Untuk Selamanya" ada cuplikan yang cukup mengena. Kalimat itu diucapkan oleh Nicholas Saputra yang berperan sebagai Yusuf,  “Pas lo umur 27, lo akan mengambil sebuah keputusan penting yang akan mengubah hidup lo” , kalimat itu diulang sebanyak tiga kali oleh Yusuf.            Menurutn...

Penyangga

Gambar
  Masih ingatkah pelajaran kimia SMA tentang buffer?  Buffer atau larutan penyangga adalah larutan kimia yang mampu mempertahankan kestabilan pH meskipun ditambahkan larutan asam atau basa kedalamnya maupun dilakukan pengenceran.       Bukan hanya larutan kimia yang membutuhkan penyangga, manusia juga. Dalam kondisi belum stabil penyangga dapat menegakkan objek; manusia membutuhkan penyangga berupa dukungan, baik moral ataupun materil. Semangat yang dapat menggerakkan nyali dan materi sebagai alat penebus keperluan. Apa jadinya bila dua insan anak manusia yang sama-sama berjuang mewujudkan cita-cita berjalan bersama dalam sampan kecil asmara?. Seberdarah apa satu sama lain mengorbankan apa yang bisa dikorbankan?.       Barangkali Serumit itulah jalan yang kami tempuh. Seumuran dan sama-sama berangkat dari nol. Memulai pertemuan tiga tahun yang lalu, saat sama-sama menempuh tingkat akhir perkuliahan. Menjadikan skripsi  dan magang...

Amatir Asmara

Gambar
 Mengingat tahun-tahun yang telah berlalu,  soal asmara sepertinya masih dikatakan "amatir". Memang kapan manusia bisa disebut ahli dalam asmara?, bukannya soal cinta kita semua hanya pemula?. Sampai usia berapapun perkara cinta manusia hanya akan menjadi pembelajar sepanjang hayat. Bahkan ia yang mengaku paling paham tentang pasangannya tetap menjadi amatir ketika tahu tentang hal baru pada diri pujaannya. Source: Dokumen Penulis      Kali ini penulis kembali pada tahun yang telah lewat. Masa sekolah yang telah usai pun fase remaja yang mulai mereda. Masa-masa puber yang menjadi sebuah keniscayaan, mengenalkan satu rasa yang cukup awam "ketertarikan pada lawan jenis", atau penulis sebut "jatuh cinta". Perjalanan mengenal CINTA membuat penulis belajar banyak sekali hal baru. Belajar tentang kecewa, merelakan, mengalah, bekerja sama, bersabar, dan mengendalikan perasaan bersamaan dengan logika.      Bodoh akan cinta juga pernah dilewati. Mengenal o...

JIWA KECIL YANG TERLUKA

Gambar
  Malam nampak merenung Selepas hujan membasuh khawatirnya, juga jenuh yang lama mengendap Dalam pelukan dingin, aku ingat-ingat lagi Kapan aku suguhkan tawa nan lega pada dunia, senyuman pada apa yang kujumpai pun kejujuran hati paling berani   Samar-samar ingatan itu tergambar Nampak abu-abu, persis kumulonimbus yang selalu tampak serius Namun dengan pelan gerimis turun dari cekung mataku Mencoba membasuh perih yang tersisa atas luka yang tak benar-benar sembuh Dari koma yang tiba-tiba siuman   Source: Dokumen Penulis Lupa, aku tak benar-benar lupa Nyatanya semua itu hanya mengendap saja Kapan waktu menghendaki, luka itu kan menganga juga Menyadari hadirnya dan menerima adanya lebih bijak Sebab, semua memang bagian menuju dewasa   Memeluk si kecil yang terluka suatu keniscayaan si dewasa Hadirkan aman dan tenang padanya Lalu bisikkan, “ Tak apa kini kau aman bersamaku, kita hadapi hidup ini bersama “ Bogor, 16 Juli 2022 “JIW...

Lingkaran Takdir

Gambar
  “Jalan untuk menghindari takdir adalah jalan menuju takdir”  -Sujiwo Tedjo-      Begitulah kutipan yang dikatakan seorang seniman saat diwawancara pada sebuah acara. Perlahan aku resapi, unik sekali proses dalam kehidupan. Tidak seteknis yang dibayangkan sebelumnya. Hidup kadang kidding, hidup kadang sebecanda itu. Manusia saja yang terlalu serius memainkan sandiwaranya. Menghindari bahkan menolak sesuatu yang memang telah digariskan hanyalah sebuah kesia-siaan. Ibarat seseorang di dalam hutan, ia hanya berputar dan pada akhirnya bertemu pohon yang sama. Apakah selamanya akan tersesat? , tidak bagi mereka yang mau mencari jalan pulang. Menyelesaikan yang tertulis, menjalani hingga selesai, mengikuti proses yang dimau oleh semesta. Semesta tak berjanji semua akan berjalan cepat atau lambat tapi ia hanya buktikan bahwa semua pasti terjadi sesuai dengan ritme dan semestinya. Jalan yang telah terbentang membawa masa nya sendiri. Jatah, wayah, wadah, setiap man...

Jalan Panjang

Gambar
    Semesta punya caranya dalam berkomunikasi dengan manusia. tanpa harus kita meminta ia akan senang hati memberikan sinyalnya untuk setiap kejadian yang tidak langsung kita ketahui, sebut hal itu sinyal atau radar. Sebuah alarm yang dapat dibaca oleh intuisi setiap insan manusia. Namun tak semua insan dapat menerjemahkannya, sebab sebagian dari mereka lebih percaya pada logika. Begitu mungkin rupa-rupa manusia.     Dalam menjalani kehidupan setiap insan memiliki landasan pacu yang berbeda antara satu dengan lainnya. Lama perjalanannya tak bisa diukur dengan ukuran teman seperjalanan. Terlihat satu jalur namun dengan tujuan yang berbeda. Ada saatnya kita berhenti dan orang lain berjalan, ada giliran kita berjalan dan orang lain berhenti, begitu seterusnya.     D alam sebuah jalan panjang menuju tujuan yang dituju akan selalu ada persimpangan jalan, entah sebuah pertigaan, perempatan, atau bahkan sebuah jalan buntu. Keniscayaan masuk dalam labirin tak dapat...