Postingan

Menampilkan postingan dengan label Puisi

JIWA KECIL YANG TERLUKA

Gambar
  Malam nampak merenung Selepas hujan membasuh khawatirnya, juga jenuh yang lama mengendap Dalam pelukan dingin, aku ingat-ingat lagi Kapan aku suguhkan tawa nan lega pada dunia, senyuman pada apa yang kujumpai pun kejujuran hati paling berani   Samar-samar ingatan itu tergambar Nampak abu-abu, persis kumulonimbus yang selalu tampak serius Namun dengan pelan gerimis turun dari cekung mataku Mencoba membasuh perih yang tersisa atas luka yang tak benar-benar sembuh Dari koma yang tiba-tiba siuman   Source: Dokumen Penulis Lupa, aku tak benar-benar lupa Nyatanya semua itu hanya mengendap saja Kapan waktu menghendaki, luka itu kan menganga juga Menyadari hadirnya dan menerima adanya lebih bijak Sebab, semua memang bagian menuju dewasa   Memeluk si kecil yang terluka suatu keniscayaan si dewasa Hadirkan aman dan tenang padanya Lalu bisikkan, “ Tak apa kini kau aman bersamaku, kita hadapi hidup ini bersama “ Bogor, 16 Juli 2022 “JIW...

Sakit

Gambar
Source : Dokumen Penulis   Sebait luka yang menganga Membuat perih jiwa Melukai sekeping hati Yang hancur berkeping-keping   Sendiri Ya aku sendiri Berdiri ditengah sepi Menangis di teluk perih   Sakit berkali-kali Rasanya benar sakit Kata-kata yang manis legit Namun beracun pahit   Coba kau rasakan Apa kau kuat? Coba kau gantikan Apa kau bisa?

Membersamai

Gambar
Source : Dokumen Penulis  Kau tau? Mungkin aku sedang mencoba berjalan sendirian Hingga tak sadar bila kini kutersesat Tak tau arah tujuan dan buatku kacau Menjadikan apa yang kukerjakan jadi sia-sia Ya..... Kadang  aku merasa bingung Bingung apa yang harus kukerjakan terlebih dahulu Antara mimpi dan realita Bagaimana caranya agar berjalan beriringan? Aku belum tau caranya Aku masih berada di persimpangan Tunjukkan kemana harus kumelangkah Ajari aku untuk percaya pada diriku Percaya pada mimpi dan proses Bila benar aku tersesat, temani aku Bersamai aku turutlah bersamaku Karena kau lebih tau Karena kau mampu Menembus ketersesatan ini Ayo kita cari jalan yang lain Untuk sampai pada cita dan masa depan Yang tlah lama didambakan

Cukuplah

  Senyum itu Senyum yang selalu membekas Selalu teringat Terlukis di sudut hati      Jemari itu     Jemari halus itu     Menggenggam ku erat     Bawa aku ke negeri dongeng Ajaklah aku Ajak aku tuk lupakan lara ini Ajari aku sahabat Tuk tersenyum lagi  Seperti dahulu     Tahukah kau ?     Aku memelukmu setiap malam     Ku peluk kau dengan butiran doa     Apakah kau rasakan itu? Kau sahabat,sahabat,dan sahabat Tak berdayanya aku tuk khianatinya dengan cinta Cukuplah kau ada disini Ikhlas ku mungkin itu gambaran rasa ini padamu     Tak perlu aku miliki mu sekarang     Asalkan ku bisa selalu bersama mu     Tak apa kini kau dengan lainnya     Asalkan kelak kau jadi sahabat dalam hidupku

Dewi Malam

Pada kelopak bunga itu, aku titipkan sebuah rindu Menanti hari menuju senja Kelopak itupun kuncup Nampaknya ia tak mau matahari direnggut malam Sebab bila hari tlah berkerudung hitam Ia hanya menjadi dewi malam Sendiri bersenandung lirih Menangis diantara bintang-bintang Memeluk dingin diantara cahaya rembulan

Sampai Di sini

Gambar
Harus kukatakan apalagi Harus kujelaskan bagaimana lagi Kata-kata ku telah habis Kini akan ku tepis Semua tangis ini Kau yang abaikan suara hati Kau yang hadir sebagai mimpi Lihatlah air mata ini Dia sanggup jelaskan rasa ini Namun mengapa kau tak juga tahu? Cukupkah sampai disini? Kutanya lagi Apakah sampai disini?

ESPRESSO VANILA

Gambar
  Sumber: Pixabay Pada pekat malam Terseduh hangat sebuah perbincangan Dua anak manusia Berbagi suka duka dunia Lalu Lalang jalanan Kendaraan bergantian Pedagang menjajakan dagangan Sesekali mengalihkan pandangan   Hati yang saling rindu Kalbu menunggu temu Raga menanti peluk Jiwa haus cumbu Pintu toko Ubin trotoar Lampu perempatan Pohon peneduh jalan Tak lupa abadikan   Legit cokelat hangat Manis alunan vanilla Samarkan pahit espresso Malam Panjang Selalu menanti kedatangannya Tuan dan puan Melanjutkan pertemuan Menyemaikan kerinduan Tulungagung, 16 Agustus 2020 oleh: Naimas Ayu

"Had"

Gambar
Teruntuk sahabat yang telah dipertemukan denganku, sedikit ungkapan dariku yang tak pandai menyampaikan keinginan, maksud, dan menjelaskan sesuatu. Bacalah dengan sepenuh hati, karena ia tak bisa dimengerti dengan logika. Terima kasih telah sudi menjadi sahabatku, sahabat sejati dalam segala kondisi.....                                           Sumber: Pixabay " HAD " Oleh: Naimas Ayu Dari daun jendela kulihat mu Melewati lamunanku saat ia beradu dengan sendu Lewat gawang pintu Aku menunggumu Berjalan dari ujung lorong bersama diammu Kunanti, kucari, tak mau melewati Walau hanya sedetik Dirimu yang selalu kutunggu Mengharap dengar kau menyapa Namun nihil kurasa Lalu kumengadu saja Tuhan bolehkan dia di kelas ini Kuingin mengenalnya Sungguh siapakah gerangan ? Tak sama, ia berbeda Sangat berbeda
Gambar
MALAM Gelap,sunyi,sepi Gambaran khalayak ramai tentang mu Dingin mungkin seperti itu rasanya Tatkala dirimu menampakkan diri Malam Aku minta satu permintaan Aku minta satu keinginan Hilangkan dia dari anganku Hapus dia dari hatiku Bawa dia pergi dari hidupku Cukuplah semuanya Cukuplah luka-luka yang ada Selesai semua cerita-cerita Malam Hibur aku dengan langit mu Buatlah aku tersenyum dengan bintang-bintang Sampaikan padanya,ku bahagia sekarang
Penantian langit malam nan sendu kau seret aku dalam haru haru biru kerinduan terdalam kerinduan nan kelam         pujangga kemana rimbanya        kalimat indah mulai menyapa         pengembara kemana perginya         adinda mulai resah ingatkah kanda padaku meski laut mulai membisu masihkah kanda mengasihi meski langit tak lagi putih         Semoga cukup sebutir doa         Tuk sampaikan kasih sayang         Tuk memeluk adi kanda terkasih         Tuk lepaskan rindu yang mulai perih By:NAY

Penantian di ujung senja

Gambar
senja itu masih disini temaram itu masih menemani cakrawala merah menjemput mentari menuju singgasana awan berlomba berarak menuju barat sana jejak mu masih tertinggal senyumanmu masih tertinggal perpisahan itu masih terkenang diingatan lambaian mu masih menghiasi angan-angan kini ku berdiri disini menanti menanti kedatangan pujaan hati ku masih ingat janji mu janji yang begitu semu mungkinkah kau masih ingat padaku seseorang yang selalu terpaku terpaku dengan semua kata-kata mu kata yang selalu kau katakan tanpa jemu hai pengembara pulanglah sudah cukup aku menantimu hingga lelah cukup sudah kesepian menderaku kini rindu telah datang untuk meminta pelukmu      karya: NAIMAS AYU
Gambar
NAUNGAN MALAM malam ini kuingin menitipkan salam salam yang telah lama terpendam bak lembaran temaram yang menusuk jauh kedalam engkau  nun jauh disana yang selalu jadikan ku merana dapatkah kau dengar aku? dengar perih ku perih yang selalu warnai hari lara yang ajari aku menari sakit yang membawa ku berlari pedih yang ajak ku berdiri langit bersolek cantik malam ini bintang bertaburan hiasi angkasa malam ini bulan bahagia menyinari langit malam namun aku rasakan sedih yang mendalam kau yang terkasih tlah buatku bersedih kau yang tercinta tlah hancurkan rasa yg tercipta dengarlah nyanyianku nyanyian senduku yang penuh haruku yang selalu penuhi lamunanku Karya : Naimas Ayu

kumpulan puisi rindu

Belenggu Penantian Harus kubawa kemana lagi belenggu ini Semakin berat kupikul sendiri Harus ku labuhkan kemana rinduku semakin sakit ku rengkuh Kurindu saat itu kurindu saat dulu ketika bersama denganmu ketika ku bertatap dengan mu entah harus ku katakan apa lagi harus ku ungkapkan kata apa lagi ku tak bisa membagi ini ku tak sanggup bercerita ini masih lamakah dirimu disana masih berapa dekade dirimu berkelana jauh sudah kau berlayar jauh sudah kau mengarungi samudra cepat ... cepat pulang kau cepatlah kembali dikau ku tunggu kau dibatas penantian belenggu