Naimas Ayu
Oase Kecil Untuk Bercerita
Kamis, 29 Oktober 2026
Namanya Dasya
Senin, 19 Oktober 2026
Dia Akad Kemarin
Barangkali sebagian besar orang menganggap mimpi adalah sekadar bunga tidur tapi bagaimana jika itu adalah sebuah firasat?
Beberapa minggu yang lalu aku bermimpi. Lagi-lagi mimpi bertemu dengan dia (red:mantan). Dalam mimpi ia sempatmengatakan sesuatu dan sialnya aku masih saja ingat kalimat yang ia katakan. “Menikahlah, ini sudah waktunya kau untuk menikah”, begitu tepatnya ia berkata. Pukul 02.00 dini hari akupun terbangun. Aku diam sejenak, memproses apa yang baru saja terjadi. Hanya mimpi, semuanya hanya mimpi dalam tidur malam ini.
Hari-hari terlewati, semua berjalan sesuai adanya. Aku hadiri satu per satu acara gratisan dengan antusias tentunya. Merampungkan membaca buku yang sudah berdebu dan sesekali mengelola toko online kecilku. Hingga tiba ketika aku pulang dari agenda journaling 18 Oktober 2026.
Siang itu terlewati dengan sepiring makanan pokok anak kos, ayam geprek. Namun bukan hanya ayam goreng tepung itu saja yang hancur ternyata rumah kecil di dalam hatiku ikut luluh lantah. Sebenarnya tak ada keheranan, kaget, ayau semacamnya. Hal ini sudah lama aku prediksi namun tetap saja, air mata itu jatuh juga. Aku tidak tahu air mata apa ini tapi ada secuil sesak di dada.
Beberapa pertanyaan terlontar di pikiranku, ia bergelanyutan seakan mempertanyakan apa yang sudah lama terjadi. Tidak hanya itu saja. Kotak memori di amigdala turut memutar semua yang ternyata masih ia simpan. Aku bingung harus bagaimana menyikapi emosi ini. Aku peluk saja diriku, menangis sepuasnya, dan menyadari semua sudah selesai. Aku dan dia sudah selesai dari 5 tahun yang lalu. Kami tidak akan pernah bersama. Memang tak ada jodoh antara kami. Pertemuan kemudian jalinan yang pernah ada sebatas mengajarkan pelajaran hidup berharga. Tak semua yang bersama akan berakhir bersatu, begitu mungkin tepatnya.
Kemarin ia sudah akad. Mereka sudah membuat janji suci dihadapan Tuhan dan beberapa manusia. Ikatan mereka sudah tercatat secara sah dimata negara. Lalu apalagi yang perlu aku tangisi?. Aku yakin, jangankan mengingatku terbersit secara tak sengaja saja sepertinya tidak ada. Aku sudah lebih dahulu terhapus dari ingatan dan hatinya. Aku hanyalah masa lalu yang sudah lama terhapus dari ingatan.
Giliranku akan tiba, jika masih diberi umur panjang. Aku akan bersatu dengan pasangan, sahabat hidup, kekasih jiwa terbaik, yang sudah dipilihkan oleh-Nya. Tidak lambat apalagi cepat. Semuanya berjalan sesuai waktunya. Terjadi seapa adanya. Mungkin sekarang aku belum layak berada di fase itu. Bekalku belum cukup berada di bahtera besar itu.
Sekarang akan aku jalani hidupku sebaik-baiknya. Rumah kecil itu memang diterpa badai kemarin, kini akan aku bangun lagi. Perlahan aku susun puing yang masih bisa dipakai. Memori lama itu kubiarkan menguap bersama el nino dan udara kering tahun ini. Aku akan rajin mengonsumsi magnesium, agar tak bertemu kau beserta orang-orang terdekatmu walau itu hanya di mimpi saja. Aku pinta pada-Nya dengan sangat, untuk tidak bertemu atau dipertemukan kembali dalam ketidak-sengajaan apapun. Asinglah se-asing asingnya. Tak perlu lagi ada sapaan atau senyum. Hiduplah di hidupmu begitu juga dengan aku.
Mungkin ini adalah tulisanku terakhir yang menjadikanmu sebagai objeknya. Aku akan tetap menulis dan membuat buku. Mimpiku itu akan selalu hidup tapi tidak dengan bertemu denganmu. Sebelumnya selamat atas pernikahanmu. Seperti kalimat yang dahulu sering aku ucapkan, kau harus bahagia entah itu bersamaku atau tidak. Pergilah sejauh jauhnya. Bawa semua memoar itu. Aku tak akan menganggapmu ada, karena semua sudah selesai.
Sabtu, 10 Oktober 2026
Musim Mangga
Tahun ini
sudah masuk ke bulan Oktober. Apabila iklim berjalan normal maka seharusnya
dari akhir September hujan sudah turun. Menurut pemantauan cuaca tahun ini
fenomena El Nino sedang berlangsung, sehingga musim kemarau menjadi lebih
lama dari biasanya. Hal ini ternyata memengaruhi beberapa hal, salah satunya
musim buah.
Musim kemarau
yang panjang membuat tanaman menerima sinar matahari yang lebih banyak untuk bahan fotosintesis. Semakin optimal proses ini berlangsung,
semakin banyak gula yang diproduksi dan dialirkan ke dalam buah. Inilah yang
membuat buah yang dihasilkan menjadi lebih manis. Contoh mudahnya adalah buah mangga.
Satu tahun
yang lalu musim mangga juga berlangsung di bulan Oktober namun itupun tidak
berjalan lama. Tidak berselang lama durian dan rambutan menyusul meranumkan
diri.
Kualitas buah mangga
saat itu lebih berair dan tidak semanis tahun ini. Bila mengacu sains
sederhana diatas maka bisa diambil kesimpulan cuaca yang sedang berlangsung
sedikit banyak mengambil peran untuk terbentuknya fruktosa pada buah.
Tahun
ini kemarau berjalan agak panjang. Mangga menyimpan banyak gula, sehingga
manisnya terasa sampai ke ubun-ubun. Manis, menyegarkan, dan sesekali ada kecut
namun tipis sekali.
Nyaris setiap
pohon mangga yang saya temui berbuah lebat. Baik yang sengaja ditanam atau yang
tumbuh liar. Dari manalagi, podang, hingga harum manis. Semua ramai
bergelantungan, melambaikan diri seakan menggoda untuk dipetik.
Sebagai anak
kos tentu saja di awal musim mangga ini saya belum bisa membeli karena
budgetnya belum sesuai. Keahlian masa kecil dulu untungnya masih melekat. Tidak,
saya tidak memanjat pohon lalu mengambil tanpa izin ya. Keahlian ini sedikit
berubah. Saya jadi pengumpul mangga yang jatuh karena terlalu matang. Tentu hasil
yang didapat tak selalu layak dimakan; bila beruntung maka hanya benjut sedikit tapi yang tidak layak
makan biasanya sudah terkontaminasi ulat dari lalat buah.
Bulan oktober
sudah masuk ke pertengahan. Pasokan mangga sudah melimpah di pasar. Tentu sesuai
hukum ekonomi pasokan yang melimpah akan membuat harga menjadi turun. Hari ini
saya bisa membeli mangga di marketplace. Buahnya ranum, cantik, dan jauh dari benjut atau ulat. Meskipun satu kilo isi
5piece hal itu sudah membuat saya senang. Sebab dengan gaji yang imut itu,
saya bisa membeli makanan yang terbilang sedikit belum terjangkau di negeri
ini, yaitu buah.
Sabtu, 08 Februari 2025
Bibit, Bebet, Bobot
Sore ini cuaca Nampak mendung. Gerimis kecil mulai turun.
Meningkatkan melatonin dalam tubuh meski tak sebanyak ketika hujan deras yang
bertandang.
Dari luar
terdengar perbincangan beberapa orang. Walaupun tak jelas siapa yang sedang menjadi
topik pembicaraan. Sepertinya obrolan disana membawa beberapa percik emosi dari
nada yang terdengar. Serupa kilat kecil yang nyaris menyambar pucuk pohon.
“dek, pilih pasangan yang
bener-bener. Kenali bibit, bebet, bobotnya. Jangan Cuma pelajari personalnya.
Budaya keluarganya juga”
“ha? Kenapa?”
Rupanya potongan podcast yang
terdengar beberapa jam yang lalu bertemakan rumah tangga.
Panjang kali
lebar dan kali tinggi. Semua yang dibicarakan, diceritakan ulang oleh ia si sulung padaku. Entah dengan bumbu tambahan atau rasa original. Namun
aku mulai membaca kekhawatirannya disana.
Ia ceritakan bagaimana
perjalanannya dahulu sebelum memutuskan naik pelaminan. Tentang cara ia
mempelajari kebiasaan keluarga calonnya dan segala nilai hidup, yang coba
dikompromikan pada saat itu.
“Kamu nanti gak hanya akan
menikah sama orangnya, kamu juga kudu siap nikah sama keluarganya”, aku
terdiam.
“Mungkin kamu cocok dengan semua
kepribadiannya tapi apakah kamu benar-benar yakin menerima semua budaya
dikeluarganya?”
Pikiranku
melesat jauh pada kisah seorang teman. Dia yang begitu yakin dengan pasangan
beserta keluarganya, lalu mereka
memutuskan menikah. Namun kini masalah rumah tangganya justru datang dari
keluarga pasangannya sendiri. Begitu survive
dia kini. Dengan segala rupa duri-duri cobaan yang pernah ia ceritakan padaku. Semoga
lekas menemui titik penyelesaiannya.
Aku tak tahu.
Barangkali memang benar. Selalu ada cobaan dalam biduk rumah tangga. Dari sisi
manapun, Tuhan menguji dua insan manusia. Tuhan hendak melihat seberapa besar
mereka dapat membuktikan keimanan atas komitmen suci yang telah disepakati.
Cobaan tak akan absen datang. Namun manusia dapat mengantisipasinya bukan?
Sekecil
mengomunikasikan segala kemungkinan buruk. Menegosiasikan ego agar tak ada yang
merasa paling superpower.
Menyelaraskan nilai-nilai hidup yang diimani satu sama lain. Lalu menapaki
jalan panjang kehidupan bersama beriringan, tanpa saling mendahului ataupun
tertinggal.
Suka atau
tidak memang begitulah hidup di Indonesia. Memutuskan menikah dengan seseorang
berarti harus menikahi keluarganya juga. Bukan hanya bahasa cinta pasangan yang
harus dipelajari tapi budaya keluarganya juga perlu dipahami. Apakah kita
sanggup menerima atau bila tak bisa dikompromikan sama sekali mundur adalah
jalan terbaik.
Masih ada
waktu. Buka mata selebar-lebarnya. Baca baik-baik semua pesan dan tanda
semesta. Walau kita tak bisa 100% tahu dengan sebenar-benarnya. Setidaknya
gambaran intinya kita bisa memahami.
Karena menikah adalah hal yang sakral, memutuskan dengan siapa kita
menjalaninya juga tak boleh asal-asalan bukan?
Sabtu, 25 Januari 2025
Bagaimana Bila Nanti............
“Siapapun nanti yang menjadi pasangan hidupku, semoga keluarganya juga
menerima dan menyayangiku sepenuh hati”
Dalam kehidupan, manusia berkembang seiring berjalannya waktu. Bersamaan dengan itu lingkungan juga berubah dan orang-orang disekitar mulai menua. Setiap masa memiliki ciri khasnya masing-masing. Seperti masa kanak-kanak yang penuh dengan waktu bermain. Masa remaja yang mulai mengenal ketertarikan lawan jenis. Masa dewasa yang penuh dengan tuntutan kehidupan dan nanti yang akan mulai berjalan pelan dimasa senja.
Beberapa
peristiwa menandai masa tumbuh manusia. Salah satunya adalah momen pernikahan.
Peristiwa membangun institusi baru dalam kehidupan. Melibatkan dua pribadi dari
latar belakang pengasuhan berbeda. Bahkan momen ini disimbolkan lahirnya
kehidupan baru bagi sebagian orang. Bersatunya dua insan untuk tak sekadar
tinggal seatap tapi juga hidup bersama.
Menjadi perempuan bujang 26th yang tinggal di kabupaten. Sudah barang tentu pertanyaan “kapan nikah” berkedok basa basi kenyang terdengar. Orang tua sepenuhnya membebaskan keputusan naik pelaminan itu pada anaknya. Namun ternyata tak penuh juga. Satu dua kali menatar dengan nada kelakarnya, yang membuat keyakinan diri bergetar. Lalu pada akhirnya bertanya juga pada diri sendiri, “kapan aku siap?” atau “apakah aku akan menikah?” kadang juga “menikah untuk apa?”. Dan rupanya jawaban itu muncul sendiri dari palung terdalam sanubari.
Baru aku tahu bersemayam ketakutan disana. Menyerupai monster dalam jiwa. Kadang muncul, kadang sembunyi. Oh... dia disana. Tak lain dan tak bukan. Trauma dan bayangan dari skenario buatanku.
Sebagai upaya
kecil, ketakutan itu coba kukenali. Walau belum sepenuhnya terlihat, setidaknya
tahu wujudnya. Berbicara, berdiskusi, dan bernegosiasi. Memahami apa yang berkecamuk. Lalu
berdamai dengannya agar tak lagi mengamuk.
Sudah menjadi rahasia umum di negara ini. Menikahi pasangan, itu artinya menikahi keluarganya juga. Menerima banyak peran dalam waktu singkat secara sekaligus. Tuntutan datang silih berganti tanpa bisa memilih. Menerima lingkungan yang asing dengan kata paksaan "anggap rumah sendiri".
Aku tak tahu ketakutan ini hanya bersarang padaku atau ada orang di luar sana yang juga merasakannya. Aku sungguh takut harus berperan sebagai anak dari orang tua lain selain orang tua ku sendiri. Harus menjadi familiar dengan kehidupan pasangan, yang sebenarnya tetap asing dimata kita. Aku takut sungguh takut. Merasakan pengalaman baru yang aku sendiri mungkin belum mau dan siap. Tapi di satu sisi aku belum menemukan formula epic untuk mengantisipasinya.
Bersama kesadaran penuh aku tahu. Membangun rumah tangga itu harus siap menerima dan merasakan semua pengalaman didalamnya. Bahagia sudah tentu satu paket dengan kedukaan. Konflik pasti tak bisa dielakkan. Tapi paling tidak, aku punya ilmu untuk menangani hal-hal itu, bukan?
Sungguh, jauh dalam hatiku mental itu masih maju mundur. Entah karena belum bertemu ia yang bisa meyakinkan, atau memang belum ada sesuatu yang menggoyahkan keyakinan itu sendiri.
Bagaimana bila nanti A-Z kemungkinan terburuk itu terjadi? ahhh... sungguh pikiran yang menggangu. Namun ada kalanya juga, bagaimana bila nanti banyak hal-hal baik A-Z yang datang? ya, itulah pengalihku selama ini. Dan dua pikiran ini yang terus menerus berperang.
Sejauh perjalanan hidup ini, hakikatnya sama. Lekas menemukan secercah cahaya dalam pekat keraguan. Atau menemukan petunjuk lewat apapun. Bisa menerjemahkan dan membaca pesan semesta itu. Agar segala kebingungan, tak lebih jauh menyesatkan atau bahkan membutakan mata dalam melihat rahmat-Nya.
Jumat, 10 Januari 2025
Tak Apa-Apa
Ada banyak cara Tuhan mengabulkan doa hamba-Nya.
Barangkali salah satu jawaban dari doa itu adalah saat Dia menggagalkan rencana yang telah lama tersusun. Bahkan jauh sebelum waktu kepastinya ada. Dan yang dibayangkan akhirnya tinggalah bayangan. Ketika ia dengan gagahnya mengenakan toga.
21 September 2024, di Yogyakarta sidang terbuka itu berlangsung. Momen dalam hidupnya yang tak bisa aku hadiri untuk "kesekian kalinya". Rencana yang selalu aku bawa dalam doa-doa, nyatanya hanya angan saja. Berharap Tuhan meng-iyakan. Tapi Dia punya maksud baikNya untukku. Sedih, kecewa, dan marah. Begitulah ketika belum memahami nilai dibaliknya. Sampailah pada satu kesempatan aku memahami maksudnya.
Tidakkah akan memilukan bila hari itu aku datang menemuinya di Graha Jendral Sudirman. Sepi barangkali yang hadir diantara mereka yang gempa gempita. Mungkin keramaian itu hanya akan menyakiti aku yang sendiri di tepian pekik sorai sanak famili. Aku yang berdiri di bawah pohon sedang dia mengambil gambar diri bersama keluarga besarnya. Ahh... sungguh pemandangan yang mengiris hati. Begitu secuil bayangan yang tergambar dalam benak ini.
Mengapa bisa gambaran seperti itu yang hadir?. Sebab jauh dalam lubuk hatinya, belum lahir kesiapan untuk mengenalkan aku pada mereka yang lebih dahulu ia sayangi. Ya, aku masih tersembunyi atau mungkin memang disembunyikannya.
Apakah aku sedang mendapat lampu kuning?, oh tidak.. lebih tepatnya ini adalah lampu merah. Bukan jalan bebas hambatan yang sedang aku lewati. Melainkan jalan tak terdeteksi satelit yang sesekali hilang dari peredaran.
Inikah hubungan yang dahulu banyak disebutkan teman-teman, "backstreet". Mereka yang diam-diam menjalani sebuah jalinan asmara tapi menyembunyikannya dari orang-orang terdekat. Terutama adalah keluarganya.
Sungguh tak banyak ekspektasi lagi. Satu per satu mulai aku tanggalkan. Kubiarkan semua terjadi sebagaimana mestinya. Terserah bagaimana ia mewujudkan seapa-adanya.
Sangat sadar diri, di mana posisiku dalam daftar prioritasnya. Coba cari, dan kau akan temukan aku ditumpukan kesekian mungkin terbawah. Masih banyak mimpi yang ingin ia capai. Semua mengantre untuk terwujud satu per satu. Aku tak boleh banyak menuntut, apalagi marah. Sudah seharusnya aku menerimanya. Sebab aku juga yang telah memilih untuk memainkan sandiwara ini sedari awal.
Sekarang, izinkan aku berhenti sejenak. Membaca ulang naskah peranku. Mengisi dan merevisi isi yang tak pasti. Menyapa kesendirian selagi menyusuri sepi-sepi yang hadir. Melewati hari demi hari lalu menyusun sebuah strategi. Bagaimana dan harus kemana bila yang ia ucapkan tak bisa ditepati.
Selasa, 31 Desember 2024
Menuju Dua Puluh Tujuh
Pergantian
tahun tinggal menghitung jam. Dalam kedipan mata 2024 tertanggal dari kalender.
2025 telah menyiapkan diri untuk mengisi posisi pendahulunya. Ada yang datang, ada juga yang pergi.
Namanya Dasya
Dari sekian banyak pertemuan yang ada, ini adalah kali pertama saya bertemu makhluk Tuhan bukan manusia yang bisa membuat saya jatuh ha...
-
P ergantian tahun tinggal menghitung jam. Dalam kedipan mata 2024 tertanggal dari kalender. 2025 telah menyiapkan diri untuk mengisi posis...
-
A da banyak cara Tuhan mengabulkan doa hamba-Nya. Barangkali salah satu jawaban dari doa itu adalah saat Dia menggagalkan rencana...
-
S ore ini cuaca Nampak mendung. Gerimis kecil mulai turun. Meningkatkan melatonin dalam tubuh meski tak sebanyak ketika hujan deras yang b...





