Selasa, 26 Januari 2021

Sang Introvert


                                                Gambar oleh pen_ash dari Pixabay

    Kurang menyukai keramaian, cenderung tidak bisa berdebat mungkin merupakan hal kecil yang melekat pada diri ini. Ya, aku adalah seorang introvert, lebih tepatnya INFJ. INFJ merupakan salah satu dari enam belas tipe kepribadian dalam MBTI. MBTI adalah singkatan dari Myers Briggs Type Indicator yang dikembangkan oleh Katherine Cook Briggs dan puterinya. Tes MBTI sendiri bertujuan untuk mengetahui tipe-tipe kepribadian seseorang dalam lingkungan dan INFJ adalah salah satunya. Dan jika kalian tahu INFJ merupakan salah satu tipe kepribadian yang cukup langka dengan presentase 1-3% dari populasi manusia di dunia.

    Sebagai seorang INFJ aku cukup sulit untuk mengungkapkan pendapat apalagi untuk berdebat. Hal yang sering aku lakukan ketika berbeda pendapat pada sesuatu adalah diam.  Segala sesuatu yang menggelitik pikiranku ujung-ujungnya akan riuh di dalam pikiranku, maka dari itu menulis adalah salah satu jalanku untuk mengungkapkannya. Entah aku saja atau ada kaum INFJ lain yang merasakannya juga, aku adalah orang yang cukup mudah terharu oleh sesuatu. Berawal dari tidak mudah tega dan berlanjut menjadi seseorang yang melow. Tapi bila kupikir-pikir lagi gen dari ibuku juga menyumbangkan sedikit sifat ini, dan hal ini benar-benar murni jika kalian mencoba memaksaku menjadi seorang yang marah tak lama dapat dipastikan air mata akan mengalir tanpa menunggu lagi.

    Sisi diriku yang tak tegaan itu cukup banyak menjadikan aku diremehkan maupun dimanfaatkan. Sejak aku kuliah ini hal-hal seperti itu sering aku rasakan dalam beberapa hal. Dari mulai teman satu kelompok tugas hingga teman satu organisasi di UKM. Namun setiap kepahitan pasti ada kecapan manis juga. Dari mereka aku cukup banyak mendapatkan kekuatan baru. Aku yang dulu mudah sakit hati karena cercaan kini tidak lagi, aku anggap mereka hanya membuat lelucon saja. Selain itu aku juga tahu watak dari setiap orang, setidaknya aku cukup bisa mengscreening seseorang sebelum memutuskan untuk berteman lebih jauh. 

    Bagi kalian yang mengenalku dengan baik pasti kalian tahu teman kenalanku cukup banyak namun sahabat dekatku tak banyak. Meskipun aku adalah seorang yang pendiam namun aku suka berinteraksi dengan orang-orang yang baru aku temui, maka tak jarang ada yang menganggap aku adalah seorang ekstrofert. Namun percayalah mereka hanya seorang yang cukup menjadi teman kenalanku saja bukan seseorang yang tahu dalamnya cerita hidupku. Bagiku kepercayaan untuk orang lain itu mahal harganya dan hanya mereka yang beruntung saja yang akan aku berikan. Terkadang banyak dari mereka yang akhirnya dekat denganku setelah melalui konflik tapi bukan berarti kalian harus berkonfrontasi dulu baru dapat kepercayaan ya, bukan bukan begitu. Dari konflik sisi sebenarnya seseorang pasti akan nampak, apakah ia layak untuk aku kenal lebih jauh atau memang sudah seharusnya jadi kenalan saja.

    Banyak berhadapan dengan orang membuatku lelah dan hilang kendali atas diriku sendiri. Namun ketika aku excited dengan orang baru aku pasti excited dengan kisah mereka, latar belakang mereka yang menurutku unik dan setiap orang berbeda dalam ceritanya. Pelajaran hidupku sedikit banyak kudapatkan dari hal tersebut. Dan memang benar dunia nyata adalah tempat belajar yang tak ada habisnya, ilmu bertebaran dimana-mana tergantung diri ingin mengumpulkannya atau tidak. Walau seorang yang Judging namun hal itu tak berlaku untuk melihat seseorang. Semesta begitu Random. Tak hanya hitam dan putih saja, ada juga mejikuhibiniu sangatlah beragam seorang manusia maka penilaian berlaku untuk peristiwa yang terlewati. Ibarat bermain puzzle begitulah hari-hariku senantiasa mengaitkan hal demi hal hingga lahir pemahaman baru dalam hidup. Tapi tentunya pemahaman itu tidak paten ya, cocok buatku belum tentu cocok untuk kalian dan jika kalian mengetahui aku siap mendengar setiap cerita seseorang maka saat itulah intuisiku telah menuntunku kesana.

Minggu, 17 Januari 2021

Hal Kecil Bernama "Syukur"

 

Photo by Ann on Unsplash

Bogor, 9 Januari 2021
    Hujan kala itu menyambut hari sabtu sedari dini. Rintik air yang menghujam, langit yang gelap, dan suhu yang dingin seakan melenakan diri untuk enggan beranjak dari tempat tidur. Jam pada layar ponsel telah menunjukkan pukul 06.00 tapi belum nampak cahaya cerah dari jendela. Hari itu sungguh memanjakan rasa malas diri ini. Niatan untuk mencuci baju yang telah ditunaikan hari sebelumnya, sedikit melegakan meski pakaian tak benar-benar kering. Memang beberapa hari kemarin aku tak bisa mencuci baju karena hujan yang terus menerus berdatangan, hingga pada Hari Jumat langit sedikit berbaik hati mempersilahkan matahari memancarkan cahaya beserta panasnya untuk bumi. Dan di hari yang tidak cerah inilah aku dapatkan kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang membuat tulisan ini lahir.
    Sabtu ini diawali dengan UAS salah satu mata kuliah yang harus aku selesaikan. Persiapan yang (tak) siap, ya karena ujian di masa daring ini mahasiswa dimudahkan dengan slide kuliah yang sangat bisa dibuka. Sedangkan jawaban dari soal pasti dari slide, maka dari itu untuk mengefektifkan waktu maka aku urungkan niat untuk belajar. Sembari menunggu waktu ujian yang telah dijadwalkan pukul 13.00 sampai 15.00 aku mengisi dengan melihat media sosial, tentu bukan untuk mencari gosip terbaru ya (euhh) tapi buat lihat berita bermanfaat ataupun sekedar informasi yang (mungkin) berguna untuk keseharianku. Dari Facebook (FB), Twitter, Instagram (IG), hingga Line semua tak luput dari guliran jemariku. Banyak informasi terbaru yang tersimpan di penyimpanan IG pun banyak video-video lucu yang disajikan FB begitu terus berlanjut hingga terdengar adzan yang menjeda kegiatan sedikit faedah tersebut.
    Hingga tiba waktunya ujian. Buka soal, slide kuliah, dan seperti biasa diskusi di gmeet. Ujian pun selesai dan tiba saatnya untuk berbagi cerita, dan hal inilah yang melenakan. Aku lupa aku punya jemuran yang belum kuangkat. Hujan yang turun pun membuat aku buru-buru ke atas untuk mengambil jemuran dan aku dapatkan hal bahagia pertama itu. Yup, jemuran ku udah diangkatin. Mungkin gak plot twis ya dan sudah dapat dipastikan Ibu kos ku lah aktor nya. Hal tersebut bukanlah kali pertama. Banyak hal membahagiakan yang diberikan oleh ibu kos ini. Mulai dari membantu aku merapikan barang-barangku, memberi teman nasi, mengingatkan untuk menutup horden dan yang sering dilakukan yaitu mengangkatkan jemuranku. Ketahuilah sudah tiga kali ini aku pindah hunian selama aku berkuliah dan belum pernah kudapatkan perhatian yang sama besar seperti orang tuaku berikan. Itu adalah bahagia pertamaku hari ini.
    Selanjutnya bahagia kedua yang aku dapatkan berasal dari pedagang yang sering bahkan hampir setiap sore mangkal di depan kos ku. Abang bakso aku menyebutnya. Sewaktu awal aku menghuni kosan ini setiap sorenya terdengar suara mangkuk beradu dengan sendok, dan siapa lagi kalau bukan abang ini pelakunya. Penasaran sore ini aku niatkan membeli baksonya dan benar saja bahasanya sangat familiar ditelinga. Abangnya berbicara dengan logat jawa, untuk memastikan aku tanya darimana asalnya. Jawa Timur. Sungguh bahagia yang sederhana, mendengar kata Jawa Timur. Walau tidak satu kabupaten namun aku cukup senang bertemu saudara satu rumpun yang memiliki ciri khas bicara sama. 
    Hal yang begitu menyenangkan aku yang ketiga tatkala ponselku berdering dan dari seberang terdengar suara ibuku. Suara yang aku rindukan sejak kemarin akhirnya aku dengar juga malam ini. 8 Januari kemarin aku sempat patah hati hanya karena hal sepele, ibuku tak bisa kuhubungi sedang aku sangat butuh bercerita dengannya. Marah, menangis, sebal semua bercampur hingga membuat aku begadang semalaman dan kini aku dengar sapaan lembutnya dari bilik ponsel. Rindu juga manja itu terbayarkan.
    Banyak hal bahagia lain yang sesungguhnya harus ku syukuri hari ini. Namun ketiga bahagia diatas cukup mewakilkan untuk menceritakan betapa besar rasa syukur yang aku guyurkan pada tiap sujud. Mulai bangun hingga terlelap tak hentinya bahagia itu menyunggingkan senyum di bibirku. Walau hal-hal yang menghampiri adalah hal sederhana bahkan kecil bila dilihat dengan mata biasa namun bagiku semua hal itu memberi rasa bahagia yang luar biasa besarnya. Masih adakah kalian yang berpikir akan bahagia dulu bersyukur? atau kalian akan mulai menerima setiap hal dalam hidup kalian dan mengsyukurinya agar hadir bahagia itu? . Percayalah hal-hal kecil disekeliling kalian itulah pembawa bahagia terbesar, maka dari itu pandai-pandailah kau mensyukurinya.

Sabtu, 16 Januari 2021

Kontemplasi

    Jumat, 15 Januari 2021 dan jam pada layar laptop menunjukkan pukul 22.52 ketika tulisan ini diketik. Apakah kalian bertanya kenapa aku belum juga tidur? insomnia? overthinking? , hmm.. mungkin sedikit  seperti itu tapi malam ini ada satu kata kunci yang harus banget aku tulis.Kontemplasi.
Dalam KBB, kontemplasi /kon.tem.pla.si/ n/ (renungan dan sebagainya dengan kebulatan pikiran atau perhatian penuh) dan bila diubah menjadi kata kerja /ber.kon.tem.pla.si/ v/ merenung dan berpikir dengan sepenuh perhatian.
Gambar oleh  Holger SchuĂ© dari Pixabay

    Pernahkah kalian tiba-tiba terpikirkan akan hal yang sebelumnya tak kalian duga?, atau muncul pemikiran yang sangat baru?. Beberapa hari yang lalu tak sengaja aku menyimak video tentang seorang filsuf di youtube. Beliau adalah seorang dosen dari perguruan tinggi negeri islam di Yogyakarta. Dari penjelasan beliau ada benang merah yang aku ambil, bahwasanya berpikir dengan benar, lurus, dan kritis itu penting untuk menjalani hidup sebagai manusia. Coba kita ingat-ingat lagi, hal yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Ya, karena Tuhan memberikan manusia akal untuk berpikir. Bayangkan bila manusia tak berakal. Tak ayal manusia  akan sama seperti hewan yang hanya menuruti nafsunya saja. Begitu sempurnanya manusia diciptakan, sehingga akan sangat rugi bila tak menggunakan akal yang telah dititipkan tersebut.
    Mengenai berpikir. Sudah sejak lama diri ini tak jauh dari berpikir mendalam namun baru di usia transisi inilah aku menyadarinya. Dari duduk di bangku sekolah dasar hingga lulus dari madrasah aliyah ada saja hal-hal kecil yang akhirnya memiliki arti mendalam setelah melalui proses berpikir yang cukup dalam. Mulai bangun pagi hingga bersiap memejamkan mata selalu ada hikmah hidup yang tercatat dalam buku harian. Maka dari itu seorang aku tak akan bisa dipisahkan dari berpikir mendalam.
    Malam ini ada satu hal yang cukup menggangu pikiranku. Telah berhari-hari menghantui pikiran, datang dan pergi semaunya. Lalu lepas sembahyang banyak pemikiran yang bermunculan, seakan menggiring aku untuk mempertimbangkannya. Mengajak aku untuk melihat jauh ke dalam alam pikiran, menengok apa yang selama ini dibangun, mengunjungi dan memeriksa apa yang salah di dalam sana.
    Pandanganku melihat ada yang salah. Keadaan atau mungkin diriku sendiri. Insan manusia yang sama-sama egois, sama-sama keras kepala, bahkan terkadang saling memendam dendam. Insan manusia yang (belum) cukup mampu mengalah. Salahkah jika aku cukup dalam memikirkan hal seperti ini? apakah aku berlebihan?. Hal yang belum bisa aku terima ketika seseorang berkata bahwa aku berlebihan dalam berpikir. Memaklumi. Beberapa kali kompromi ini aku lakukan namun tak bisa untuk urusan perasaan. Aku rasa memang sudah seharusnya ketika menjalin rasa seseorang membahas sesuatu yang melibatkan perasaan atau juga emosi. Sebab dari obrolan tersebut akan muncul pengertian-pengertian baru. Dari hal itu akan lahir pemikiran baru akan dibawa kemana jalinan tersebut. Kaku. Aku tak tahu mengapa seseorang bisa sesulit itu untuk membedakan antara hal yang penting dengan sesuatu yang memang hanya candaan. Menurutku sudah cukup memanjakan hati dengan menganggap segalanya masih sama seperti di awal. Intropeksi diri, adalah hal yang perlu dilakukan sekarang. Melihat jauh ke dalam diri, menengok lagi, dan memperbaiki yang rusak. Pasang dan surut, hal yang akrab berkawan. Untuk kali ini sepertinya kesurutan itu hadir lebih besar padaku, dan tak dapat aku ungkapkan tak bisa kubagi. Doa, doa, dan doa. Dari sanalah kekuatan itu hadir. Entah kapan, aku pasti akan menyampaikannya. Mungkin tidak sekarang tapi secepatnya. Dari sini ketahuilah pentingnya menguatkan kepekaan hati, pertanyaan-pertanyaan sederhana sudah tak mampu lagi. Dari sini aku mengakui deep talk penting dilakukan, bukan diacuhkan.

Selasa, 12 Januari 2021

Menjalin Rasa

 Teman hidup. Sudahkah kalian menemukannya? atau mungkin kini sudah bersamanya?, rasanya cukup sulit atau bahkan tidak mudah menemukan atau ditemukan olehnya. Entah kebetulan atau memang telah ditakdirkan namun rasanya semua telah direncanakan oleh-Nya. Kalau kata Tulus dalam lirik lagunya, "Di dekatnya aku lebih tenang, bersamanya jalan lebih terang", mungkin begitu rasanya.



Sahabat hati di segala kondisi, benarkah seperti itu? Apakah dia benar-benar tau semua kondisimu? bahkan untuk kondisi baru yang  belum pernah ia ketahui. Mengikrarkan seseorang menjadi sahabat saja tidaklah cukup. Perlu komunikasi, pengertian, toleransi, bahkan kesabaran untuk tetap mempertahankan frekuensi yang sudah ada. Itulah mengapa perlunya "grow as we go", bila ingin menetap untuk jangka waktu tak terbatas dengan seseorang, bertumbuh seiring berjalannya waktu dan terus belajar adalah hal yang penting. Buka mata, buka telinga, peka kan hatimu. Pernahkah terbersit tanya mengapa chemistry aku dan dia akhir-akhir ini sering melemah ya? Kok radarnya gak sekuat dulu ya? , dan banyak pertanyaan lain yang sebenarnya mengindikasikan ada yang berubah dalam "atmosfer" bersama yang telah dibangun. Namun sayangnya semua itu sering terabaikan, terkabutkan oleh rutinitas dengan kedok kesibukan. Lalu yakinkah di saat seperti itu semua akan tetap baik-baik saja? Yakin tak ada yang sakit? atau mungkin tak ada yang luka? .

Menjalin rasa artinya menjalin emosi antar satu sama lain. Emosi yang tidak pasti keadaannya memang perlu mendapat "treatment". Banyak mendapat abai dan tak dirawat, cepat atau lambat akan menjadi boomerang untuk yang menjalaninya. Ibarat dua orang yang berjalan bersama ketahui apa yang dirasakan temanmu itu. Bisa saja kau meninggalkannya dengan melangkah jauh ke depan demi mencapai tujuan lebih cepat, namun bagaimana dengannya yang sedari dulu bersama? Kau biarkan tertinggal di belakang? sendiri? padahal bila kau bisa sedikit bersabar, kau akan tahu bahwa yang ia inginkan hanya istirahat sebentar. 

Jeda, mungkin itu yang diperlukan. Melihat jauh ke dalam diri, mencari sekiranya apa yang perlu diperbaiki. Pembicaraan ringan aka basa-basi sudah tak berarti. Coba tanyakan pada diri, sudah siapkah memaafkan lebih luas? sudah siapkah belajar lebih banyak dari sebelumnya? sudahkah siap memaklumi lebih sering? sudahkah siap bertumbuh dan berbagi? dan yang teramat penting, apakah sudah ada penerimaan, pengertian, serta ketulusan?. Semua pertanyaan itu harus kau tanyakan pada dirimu sebelum benar-benar melangkah pada hubungan yang lebih jauh. Aku tak tahu kapan semua itu akan ada menemukan jawaban, namun semua akan terjawab sekalipun tak terjawab adalah jawabnya.

Sampai Di sini

Harus kukatakan apalagi
Harus kujelaskan bagaimana lagi
Kata-kata ku telah habis
Kini akan ku tepis
Semua tangis ini

Kau yang abaikan suara hati
Kau yang hadir sebagai mimpi
Lihatlah air mata ini
Dia sanggup jelaskan rasa ini
Namun mengapa kau tak juga tahu?

Cukupkah sampai disini?
Kutanya lagi
Apakah sampai disini?

Namanya Dasya

     Dari sekian banyak pertemuan yang ada, ini adalah kali pertama saya bertemu makhluk Tuhan bukan manusia yang bisa membuat saya jatuh ha...