Postingan

Semburat Rindu

Gambar
  Beberapa purnama telah terlewati tanpa “kita”, sebab kini yang ada adalah aku dan kau. Setelah keputusan perih kita ambil pada bulan keenam tahun lalu, rasanya masih menguar di tahun ini. walau aku tak lagi di kota itu begitupun denganmu namun memori tangis itu tak mau luruh bersama hujan di bulan juni. Masih kuingat betul alur memori itu. Dari mulai kefatalan yang kau lakukan, garit-garit luka yang harus aku tanggung, ego yang merajai keputusan-keputusanmu, hingga jalinan kasih yang akhirnya kehilangan denyutnya. Mungkin kita dulu sama-sama tahu pun sama rasa bagaimana akhir mei menuju juni yang cukup kelam itu. Badai pilu yang tak mampu terbendung olehmu dan aku memecah bahtera kita. Hal yang aku pertanyakan, dalam keadaan seperti itu mengapa kau masih saja berpikir akan tetap sampai di tepian?, mengapa kau tak coba perbaiki dulu bahtera baru melanjutkan perjalanan ini?. Pertanyaan yang masih belum menemukan jawabnya, atau mungkin tanpa jawaban itu sudah menjadi jawabnya? “...

Sakit

Gambar
Source : Dokumen Penulis   Sebait luka yang menganga Membuat perih jiwa Melukai sekeping hati Yang hancur berkeping-keping   Sendiri Ya aku sendiri Berdiri ditengah sepi Menangis di teluk perih   Sakit berkali-kali Rasanya benar sakit Kata-kata yang manis legit Namun beracun pahit   Coba kau rasakan Apa kau kuat? Coba kau gantikan Apa kau bisa?

Membersamai

Gambar
Source : Dokumen Penulis  Kau tau? Mungkin aku sedang mencoba berjalan sendirian Hingga tak sadar bila kini kutersesat Tak tau arah tujuan dan buatku kacau Menjadikan apa yang kukerjakan jadi sia-sia Ya..... Kadang  aku merasa bingung Bingung apa yang harus kukerjakan terlebih dahulu Antara mimpi dan realita Bagaimana caranya agar berjalan beriringan? Aku belum tau caranya Aku masih berada di persimpangan Tunjukkan kemana harus kumelangkah Ajari aku untuk percaya pada diriku Percaya pada mimpi dan proses Bila benar aku tersesat, temani aku Bersamai aku turutlah bersamaku Karena kau lebih tau Karena kau mampu Menembus ketersesatan ini Ayo kita cari jalan yang lain Untuk sampai pada cita dan masa depan Yang tlah lama didambakan

Cukuplah

  Senyum itu Senyum yang selalu membekas Selalu teringat Terlukis di sudut hati      Jemari itu     Jemari halus itu     Menggenggam ku erat     Bawa aku ke negeri dongeng Ajaklah aku Ajak aku tuk lupakan lara ini Ajari aku sahabat Tuk tersenyum lagi  Seperti dahulu     Tahukah kau ?     Aku memelukmu setiap malam     Ku peluk kau dengan butiran doa     Apakah kau rasakan itu? Kau sahabat,sahabat,dan sahabat Tak berdayanya aku tuk khianatinya dengan cinta Cukuplah kau ada disini Ikhlas ku mungkin itu gambaran rasa ini padamu     Tak perlu aku miliki mu sekarang     Asalkan ku bisa selalu bersama mu     Tak apa kini kau dengan lainnya     Asalkan kelak kau jadi sahabat dalam hidupku

Penghujung Februari

Gambar
Detik kini telah menjadi menit, menit mengumpul menjadi jam, lalu jam mengerucut menjadi hari, hari tak lelah merajut menjadi bulan dan bulan menyatu menjadi tahun begitu seterusnya. Tak terasa tahun-tahun hampir menjadi kenangan, mengapa kenangan? karena sebuah pertemuan yang telah berjalan sekian lama hampir menemui pisahnya. Kurasa semua memiliki masanya sendiri-sendiri, dan semua kata yang terangkai menjadi paragraf pun tak akan sanggup melukiskan setiap waktu yang telah terlewati, entah terlewati dengan tawa ataupun yang terlewati dengan tangis. Biarkan semua berjalan dengan seharusnya, jangan paksa dengan keinginan yang tak seharusnya.  Sumber: Dokumen penulis Bila masa pertemuan itu harus digantikan oleh perpisahan biarkan, biarkan itu terjadi. Karena sesungguhnya dari perpisahan itu akan ada pertemuan-pertemuan yang lain lagi. Bila bulan ini telah sampai pada ujungnya biarkan saja, karena akan ada awal bulan yang baru untuk dijalani. 28022017 (Ditulis ketika penulis memasuk...

Dewi Malam

Pada kelopak bunga itu, aku titipkan sebuah rindu Menanti hari menuju senja Kelopak itupun kuncup Nampaknya ia tak mau matahari direnggut malam Sebab bila hari tlah berkerudung hitam Ia hanya menjadi dewi malam Sendiri bersenandung lirih Menangis diantara bintang-bintang Memeluk dingin diantara cahaya rembulan

(Setiap) Hari Ibu

Gambar
  Tulisan ini pertama kali di buat saat momen hari ibu pada 22 Desember 2017. Saat itu ada sebuah kompetisi menulis dari salah satu media ternama dan untuk mencoba peruntungan saya buat tulisan ini. Empat tahun berlalu, meskipun juara tak di dapatkan namun tulisan ini layak di baca khalayak umum. Semoga ada pelajaran yang dapat diambil dari tulisan sederhana ini. Selamat menyusuri aksara-aksara indahnya. Sumber: Dokumen pribadi penulis Bercerita tentang ibu mungkin tak akan ada habisnya, bahkan  berjuta kalimat tak akan mampu menuliskan betapa jasa seorang ibu yang tak  bisa terbalaskan oleh anak-anaknya. Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang jembatan begitulah peribahasa berkata. Sebab sebesar apapun usaha kita sebagai anak akan tetap tak akan bisa menggantikan semua perjuangan beliau. Dalam tulisan ini saya akan menceritakan momen dimana saya menemukan arti dan berharganya kasih dan sayang dari seorang ibu yang selalu menemani saya dimanapun saya berada, juga ...